More Info

LivE Indonesia ID

LivE Indonesia adalah media pengelolaan informasi dan pengetahuan untuk pengelolaan sumber daya alam, dan lingkungan secara berkelanjutan.


Kamimenampung siapa pun yang hendak berbagi informasi dan pengetahuan. Akses ini bisa dikirimkan ke redaksi LivE Knowledge di liveknowledge@hotmail.com


Kunjungi FB Page LivE di @liveknowledgeID atau jejaring Twitter di @knowledge_live
More Info

Oleh: Tantri Maya Sari

Menu yang disajikan untuk makan bersama para undangan dan peserta pengukuhan Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KPPL) Maju Bersama di Balai Desa Pal VIII, Sabtu (12/8/17) terlihat jauh berbeda dari menu yang biasa disajikan pada acara umumnya. Bukan beragam menu berbahan baku daging ayam, kambing atau sapi, melainkan menu berbahan baku tumbuhan di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Diantaranya Pakis yang diolah dengan santan dan cabai merah, Cempokak (rimbang) yang disambal dengan cabe hijau dan dicampur tempe dan ikan teri, dan Unji (kecombrang) yang disambal dengan cabai merah dan terasi. Penyajian tersebut untuk mengenalkan menu yang biasa diolah perempuan Desa Pal VIII yang bahan bakunya cukup berlimpah di kawasan TNKS. “Mudah didapat di kawasan TNKS,” kata Sekretaris KPPL Maju Bersama Liswanti.

Buah Kecombrang juga sering dimanfaatkan untuk campuran membuat sambal.

Selain bergizi, menu tersebut juga dipercaya bermanfaat untuk mencegah dan mengobati penyakit. Misalnya Pakis dipercaya bermanfaat untuk menurunkan kadar gula darah. Sehingga, bagus dikonsumsi bagi penderita diabetes. Sedangkan cempokak dipercaya bermanfaat untuk menyembuhkan gangguan indera penglihatan.

Baca  Desa Penyangga Warisan Dunia Ini Potensial Menjadi Penghasil Batik

“Bisa menyembuhkan penyakit mata rabun,” kata warga Desa Pal VIII, Sumiati. Sedangkan Unji dipercaya bermanfaat untuk mencegah kanker dan menyehatkan jantung. Masih banyak tumbuhan di kawasan TNKS yang dapat diolah menjadi pangan rumah tangga. Diantaranya rotan muda (umbut), rebung (bambu muda), pisang hutan, jengkol dan petai.

Selain untuk kebutuhan rumah tangga, beragam tumbuhan tersebut juga dipanen untuk dijual atau menjadi sumber pendapatan bagi perempuan. Bukan hanya perempuan Desa Pal VIII yang memanen tumbuhan di kawasan TNKS tersebut, perempuan desa tetangga juga melakukannya.