Harry Siswoyo
Follow Me

Harry Siswoyo

Jurnalis, penggemar kopi hitam dan fotografi. Berminat dalam isu lingkungan hidup, sosial dan kebudayaan.
Harry Siswoyo
Follow Me

Orang di negara barat dikenal sebagai sosok individualis ketimbang orang di timur. Menurut ilmuwan, sikap itu rupanya ditengarai oleh cara mereka memenuhi makan, salah satunya dengan tradisi bercocok tanam.

petani-padi

Seorang petani di Pulau Jawa membawa bibit padi siap tanam/beritadaerah.co.id

Live Knowledge – Gandum sudah menjadi makanan utama orang Barat. Mereka tak menggemari beras, selain topografi wilayah yang tak cocok. Menanam padi di sawah sudah menjadi khas mereka orang-orang di Timur. Namun, dari situ jugalah akhirnya melahirkan divergensi budaya.

Lalu bagaimana sesungguhnya hubungan bercocok tanam ini dengan budaya?

Seperti mengutip dalam laman DW Indonesia, menanam benih padi dan mengairinya adalah urusan pelik yang harus dilakukan secara kolektif. Sebaliknya budidaya gandum, jika cuaca murah hati, tidak terlampau rumit.

Begitulah teorinya. Ilmuwan meyakini, perbedaan metode bercocoktanam antara padi dan gandum memperuncing perbedaan antara penduduk di barat dan timur.

Riset inilah yang kini dituangkan dalam sebuah jurnal ilmiah yang disusun oleh ilmuwan dari Cina dan Amerika Serikat. Dalam kajian itu menyebutkan bahwa penduduk yang secara tradisional menanam padi secara perlahan akan semakin kolektif, lantaran kebutuhan untuk bekerjasama yang besar agar bisa memproduksi beras.

Baca  Apa Mimpi Anak-anak Korban Kebakaran Hutan

Sebaliknya penduduk yang menanam gandum lebih berpikir independen dan analitikal. Ini dikarenakan gandum cuma membutuhkan setengah tenaga kerja dan tidak terlalu bergantung pada kerjasama untuk memproduksinya seperti misalnya padi, tulis ilmuwan.

“Teori padi ini bisa menjelaskan perbedaan antara barat dan timur,” tulis hasil riset yang dipimpin oleh Thomas Talhelm, mahasiswa program doktor untuk Psikologi Budaya di University of Virginia.

Untuk mempermudah pengujian, ilmuwan memusatkan penelitian pada sekelompok masyarakat yang hidup di bantaran sungai Yangtse, Cina. Sungai ini membelah dua penduduk, antara masyarakat petani padi di selatan dan gandum di utara. Kedua kelompok masyarakat dinilai berbeda dalam tingkah laku dan adat istiadat.

Sebanyak 1.162 penduduk etnis mayoritas Han dari enam kota diikutsertakan dalam jajak pendapat itu. Pertanyaannya berkisar pada individualisme, kemampuan analisa dan kesadaran kolektif. Hasilnya dinilai memastikan hubungan antara kolektivisme atau individualisme dengan tradisi menanam padi atau gandum.

“Masyarakat padi di selatan Cina lebih bergantung satu sama lain dan cenderung berpikir kolektif ketimbang penduduk Cina utara yang menanam gandum,” tulis riset itu lagi.

Ya, singkatnya menanam padi bagi orang timur bukan cuma sekadar memenuhi kebutuhan perut. Tapi juga lebih kepada menanam kebersamaan, kolektifitas dan sikap bergotongroyong.

Tradisi bertanam padi telah menciptakan budaya dan sikap, dan itu mendarahdaging hingga ke seluruh orang timur.