More Info

LivE Indonesia ID

LivE Indonesia adalah media pengelolaan informasi dan pengetahuan untuk pengelolaan sumber daya alam, dan lingkungan secara berkelanjutan.


Kamimenampung siapa pun yang hendak berbagi informasi dan pengetahuan. Akses ini bisa dikirimkan ke redaksi LivE Knowledge di liveknowledge@hotmail.com


Kunjungi FB Page LivE di @liveknowledgeID atau jejaring Twitter di @knowledge_live
More Info

Oleh: Eva Juniar Andika

Pisang hutan yang tumbuh liar di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) memiliki beragam manfaat. Khusus bagi perempuan, bagian pohon pisang hutan yang sangat bermanfaat adalah jantung. Mengonsumsinya bisa memperlancar air susi ibu (ASI). “Sangat bagus untuk perempuan yang sedang menyusui,” kata Misna, warga Desa Karang Jaya, Rabu (11/10/17).


Pemanfaatan jantung pisang hutan tidak semata-mata untuk perempuan yang menyusui. Perempuan yang tidak menyusui juga memanfaatkannya untuk lauk makan sehari-hari. Biasanya jantung pisang hutan dimasak dengan santan, ditumis dengan cabai hijau atau direbus untuk dimakan bersama sambal terasi. “Kalau jantung pisang lainnya, lebih pahit,” kata Misna.

Jantung pisang hutan yang memiliki manfaat untuk memperlancar air susu ibu (ASI). Foto: www.fotorafi.wordpress.com

Sebagian perempuan di Desa Karang Jaya biasa memanen jantung pisang hutan yang tumbuh di kawasan TNKS. Selain untuk kebutuhan rumah tangga, hasil panen juga dijual di pasar pekan hari kamis di Desa Karang Jaya. Bagian pohon pisang hutan lainnya yang sering diambil adalah daun. Diambil untuk membungkus sejumlah makanan seperti lepat, oncom, nagasari, lempar dan urap.

Baca  Pakis di TNKS, Salah Satu Jaring Pengaman Perempuan Desa

“Saya biasanya membungkus makanan menggunakan daun pisang hutan,” kata Misna. Selain jantung dan daun, bagian pohon pisang hutan yang juga bermanfaat adalah getah. Biasanya dimanfaatkan untuk menghambat keluarnya darah bila mengalami luka. Sehingga, tidak khawatir akan kehabisan darah akibat luka.

Kendati memiliki beragam manfaat, budidaya pisang hutan tidak dilakukan. Itu karena pohon pisang hutan relatif mudah ditemui di kawasan TNKS. Biasanya tumbuh di areal belukar muda. “Walau menggarap TNKS, kami tidak menebang atau menghabiskan pohon pisang hutan. Sengaja dibiarkan tetap tumbuh agar berkembang baik dan bisa dimanfaatkan,” kata Misna.

Bukan hanya pisang hutan, penggarap TNKS juga tidak menebang tumbuhan lainnya yang memberikan manfaat, khususnya bisa memberikan pendapatan.  Oleh karena itu, menurut Misna, para penggarap TNKS bukanlah ingin merusak TNKS, melainkan ingin memanfaatkan lahan atau potensi SDA di TNKS sebagai sumber pendapatan dan penghidupan.