More Info

LivE Indonesia ID

LivE Indonesia adalah media pengelolaan informasi dan pengetahuan untuk pengelolaan sumber daya alam, dan lingkungan secara berkelanjutan.


Kamimenampung siapa pun yang hendak berbagi informasi dan pengetahuan. Akses ini bisa dikirimkan ke redaksi LivE Knowledge di liveknowledge@hotmail.com


Kunjungi FB Page LivE di @liveknowledgeID atau jejaring Twitter di @knowledge_live
More Info

Oleh: Tantri Maya Sari

Bukan hanya perempuan di Desa Babakan Baru dan sekitarnya yang memanfaatkan bambu yang tumbuh di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Perempuan di Desa Karang Jaya dan sekitarnya juga memanfaatkannya. Salah satunya, untuk membuat keranjang yang digunakan untuk mengangkut sayur.

Seorang perajinnya adalah Donsri, istri Kepala Dusun IV Desa Karang Jaya. Setiap hari, Donsri ikut membuat keranjang dari bambu yang digunakan petani dan pedagang pengumpul di desa untuk menjual sayur ke pasar atau luar kota. “Sekitar 10 – 20 keranjang setiap hari,” kata Donsri pada Rabu (10/10/17).

Keranjang sayur berbahan baku bambu betung yang tumbuh di kawasan TNKS. Foto; Tantri Maya Sari

Adalah bambu betung yang dimanfaatkan untuk membuat keranjang sayur. Sedikitnya 20 orang warga di Desa Karang Jaya dan desa tetangga yang mengambil bambu betung di TNKS setiap harinya. “Setiap orang biasanya mengambil dua batang bambu. Karena cepat tumbuh, tidak pernah habis, walau setiap hari diambil,” ujar Donsri.

Baca  Perempuan Desa Babakan Baru Usulkan Akses Pemanfaatan Bambu

Bambu betung tumbuh di lahan yang miring dan agak lembab atau di lahan yang dianggap kurang cocok untuk ditanami sayur. Sehingga, keberadaan bambu betung relatif tidak terganggu oleh aktivitas warga yang menggarap kawasan TNKS. “Walau mudah tumbuh, namun tidak tumbuh sembarangan. Hanya tumbuh di tempat-tempat tertentu,” ujar Donsri.

Kendati tersedia pula karung plastik yang bisa digunakan untuk mengangkut sayur, namun petani dan pedagang sayur lebih memilih keranjang dari bambu betung. Selain tahan lebih lama, keranjang dari bambu betung juga bisa mengangkut sayur dalam jumlah lebih banyak. “Selain keranjang untuk mengangkut sayur, bambu betung juga dimanfaatkan untuk membuat topi caping dan pondok di kebun,” kata Donsri.

Hasil menjual keranjang dari bambu sangat membantu keuangan rumah tangganya. Keranjang dijual dengan harga Rp 10.000 perbuah. Donsri juga tidak perlu repot menjualnya karena pembeli datang ke rumahnya. Nyaris tidak pernah tidak habis terjual atau tidak ada pembelinya. “Hasil menjual keranjang dari bambu betung sangat membantu keuangan keluarga kami,” kata Donsri.