Follow Me

Dedek Hendry

Jurnalis dan pekerja sosial yang berminat mendalami isu lingkungan hidup, komunikasi partisipatif dan gender.
Follow Me

“Suara kami didengar, ditanggapi,” kata Rita Wati, Ketua Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KPPL) “Maju Bersama” Desa Pal VIII. Rita adalah juru bicara perempuan Desa Babakan Baru, Pal VIII dan Karang Jaya saat berdialog dengan Plt. Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah pada Selasa (31/10/17) di Kota Bengkulu, dan dengan Kepala Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) Arief Toengkagie pada Selasa (21/11/17) di Rejang Lebong. Saat berdialog, Rita menyampaikan inisiatif perempuan desa sekitar TNKS untuk terlibat mengelola atau memanfaatkan dan menjaga kelestarian TNKS/Hutan Warisan Dunia.

Lahir pada 1969  di Desa Pal VIII, Rita adalah seorang ibu rumah tangga. Selama ini tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa perempuan memiliki hak untuk berpartisipasi mengelola TNKS. “Saat pelatihan (20-21 Mei 2017) baru mengetahui kalau perempuan juga bisa (berhak) untuk mengelola,” kata Rita. Selain mengenai hak-hak atas lingkungan hidup sebagai bagian dari hak asasi manusia (perempuan), Rita bersama peserta pelatihan lainnya dari Desa Pal VIII, Babakan Baru dan Karang Jaya juga mendiskusikan arti penting dan dampak negatif kerusakan TNKS bagi kehidupan dan kesejahteraan perempuan.

Ketua KPPL Maju Bersama Rita Wati menyampaikan inisiatif untuk terlibat mengelola TNKS/Hutan Warisan Dunia kepada Kepala Balai Besar TNKS Arief Toengkagie.

Setelah mengikuti pelatihan, Rita bersama perempuan Desa Pal VIII lainnya yang mengikuti pelatihan berinisiatif membentuk kelompok. Dia juga mengajak perempuan lainnya untuk berkelompok melalui pertemuan di Balai Desa Pal VIII pada 9 Juli 2017. Dalam pertemuan, Rita menyampaikan dampak kerusakan TNKS terhadap perempuan. “Saya ditanya, ‘Jadi apa yang bisa kita lakukan?’ Saya jawab, kita bisa buat kebun bunga, obat-obatan, kita buat kebun pembibitan pohon untuk ditanam di TNKS yang menghasilkan buah yang bisa diambil sekaligus bisa menyimpan air, karbon dan lainnya,” cerita Rita.

Baca  Gangguan Keutuhan Situs Warisan Dunia Berdampak Nyata Bagi Perempuan Desa

Terkait rencana membuat kebun pembibitan, Rita berpikir kelompok perlu belajar membuat pupuk organik. Lalu, Rita menyusun rencana pelatihan pembuatan pupuk organik sekaligus pengukuhan oleh Wakil Bupati Rejang Lebong Iqbal Bastari pada Sabtu (12/8). Namun, Rita tidak berkesempatan mengikuti pelatihan karena terlibat dalam dialog bersama pejabat instansi, akademisi, NGO dan media, usai pengukuhan. Dalam dialog, Rita menyampaikan tujuan pembentukan kelompok, yakni ingin terlibat mengelola TNKS. “Ternyata tujuan kami didukung, walaupun saat itu kami belum tahu caranya,” ujar Rita.

Rita kembali menyampaikan keinginan untuk terlibat memanfaatkan dan menjaga kelestarian TNKS kepada Kepala Seksi Wilayah VI Balai Besar TNKS Muhammad Zainuddin dalam diskusi pada Jumat (15/9/17). Zainuddin meresponnya dengan positif, bahkan mengajak kelompok perempuan untuk membangun kerjasama. Mengetahuinya, Rita merasa sangat senang. Sebab, keinginan perempuan untuk terlibat mengelola TNKS dianggap sebagai suatu hal yang tidak mungkin atau mustahil terjadi oleh mayoritas warga desa. “Terutama kaum laki-laki,” kata Rita.

Kepala Balai Besar TNKS Arief Toengkagie dan jajarannya berfoto bersama komunitas perempuan desa dan mahasiswi (KPPSWD)

Tanggapan Plt. Gubernur dan Kepala BBTNKS

Dalam dialog, Plt. Gubernur Rohidin Mersyah mengatakan, ”Prinsip, saya mendukung. Dan saya senang kalau ibu-ibu di sekitar kawasan hutan (TNKS) berinisiatif untuk mendapatkan izin (akses) dan menambah kemampuan agar bisa mengelola hutan, bisa mengambil manfaat hutan, tanpa merusak hutan.” Saat diwawancara awak media massa, Rohidin mengatakan pemerintah memiliki keharusan melakukan pemberdayaan masyarakat (perempuan) di sekitar taman nasional agar kehidupan perekonomian masyarakat (perempuan) dapat berjalan, tanpa merusak hutan.

Ketua KPPL Maju Bersama Rita Wati menyampaikan inisiatif untuk terlibat mengelola TNKS/Hutan Warisan Dunia kepada Plt. Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah.

Dalam dialog, Kepala BBTNKS Arief Toengkagie juga mengapresiasi inisiatif perempuan untuk memanfaatkan dan menjaga kelestarian TNKS. “Banyak yang bisa dilakukan oleh ibu-ibu. Apa yang mau dilakukan oleh ibu-ibu, silakan dikomunikasikan dengan kepala bidang dan kepala seksi, termasuk saya”. Saat diwawancara awak media massa, Arief mengatakan, komunitas perempuan yang berinisiatif memanfaatkan dan menjaga kelestarian TNKS baru muncul di Rejang Lebong. Oleh karena itu, BBTNKS mendukung. “Saya respon terus ke teman-teman (pengelola TNKS) di sini, itu harus dilakukan, karena bagus ke depannya, dan ini bisa menjadi suatu trigger (pemicu) untuk Indonesia”.

Baca  Mengapa Perempuan Penting Terlibat Menjaga Hutan

Untuk diketahui, TNKS merupakan salah satu taman nasional di Indonesia yang ditetapkan sebagai Asean Heritage Parks, dan bersama Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan ditetapkan sebagai Tropical Rainforest Heritage of Sumatra (TRHS) dalam daftar Warisan Dunia oleh World Heritage Committee UNESCO.