More Info

LivE Indonesia ID

LivE Indonesia adalah media pengelolaan informasi dan pengetahuan untuk pengelolaan sumber daya alam, dan lingkungan secara berkelanjutan.


Kamimenampung siapa pun yang hendak berbagi informasi dan pengetahuan. Akses ini bisa dikirimkan ke redaksi LivE Knowledge di liveknowledge@hotmail.com


Kunjungi FB Page LivE di @liveknowledgeID atau jejaring Twitter di @knowledge_live
More Info

Oleh: Indah Purnama Sari

Beban pikiran perempuan petani sawah di Desa Babakan Baru yang airnya bersumber dari aliran sungai Air Sulup yang berhulu di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) mulai bertambah. Bila sebelumnya tidak pernah memikirkan risiko sawah mengalami gagal panen akibat banjir, sejak beberapa tahun belakangan ini beban pikiran tersebut muncul.

“Kalau sudah sering hujan atau masuk musim hujan, ibu-ibu mulai khawatir,” kata warga Desa Babakan Baru Sri Nurlela usai diskusi dengan materi “Perlindungan dan Pemanfaatan TNKS untuk Kesejahteraan Perempuan” oleh Kepala Seksi Wilayah VI Balai Besar TNKS Zainudin, di Kantor Bidang 3 Balai Besar TNKS, Jumat (21/7).

Baca  Memanfaatkan Tumbuhan di TNKS untuk Masa Nifas

Luas sawah di Desa Babakan Baru yang menggunakan air sungai Air Sulup berjumlah sekitar 25 hektar. Kegagalan panen tentu lah membuat perempuan petani sawah menjadi tertekan. Selain kehilangan kesempatan untuk mempersiapkan beras untuk rumah tangga, kegagalan panen mengakibatkan kehilangan pendapatan.

Air sungai Air Sulup juga biasanya menjadi keruh bila musim hujan. Perubahan kondisi air tersebut juga berdampak bagi perempuan yang melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak dan mencuci yang menggunakan air sungai Air Sulup. “Tidak layak untuk memasak dan mencuci. Jadi, terpaksa mengambil air di sumur yang letaknya cukup jauh dari rumah atau pondok,” tambah Sri Nurlela.

Air terjun Batu Betiang yang merupakan aliran air Sungai Air Sulup.

Perisitiwa banjir dan air keruh saat musim hujan merupakan akibat perubahan kawasan TNKS dan pertanian tidak ramah lingkungan di sepanjang aliran sungai Air Susup. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat untuk ikut menjaga kawasan TNKS dan sepanjang aliran sungai sangat dibutuhkan. Karena perempuan yang merasakan langsung dampak kerusakannya.

“Kami berharap ibu rumah tangga di sekitar kawasan TNKS juga ikut terlibat,” kata Sri Nurlela. Di lain sisi, perubahan kawasan TNKS juga mengakibatkan kestabilan pasokan air selama musim panas menjadi terganggu, bahkan bisa mengakibatkan kekeringan bila musim panas berlangsung cukup lama.