More Info

LivE Indonesia ID

LivE Indonesia adalah rumah komunitas penyedia pengelolaan informasi dan pengetahuan untuk pengelolaan sumber daya alam, dan lingkungan secara berkelanjutan.


Kami juga menampung siapa pun yang hendak berbagi informasi dan pengetahuan ke ruang Live Indonesia ID. Akses ini bisa dikirimkan ke redaksi LivE Knowledge di liveknowledge@hotmail.com


Kunjungi FB Page LivE di @liveknowledgeID atau jejaring Twitter di @knowledge_live
More Info

Hutan itu setiap incinya berharga. Siapa pun yang bisa mengelolanya secara lestari, akan bisa mendapat penghasilan lebih. Salah satunya dengan lewat sertifikasi jenis kayu yang dirawat. Dengan ini, kayu yang ditanam memiliki nilai tambah. Yakni upaya menjaga kelestarian dan keberlanjutan.

LivE Knowledge – Di Jawa Tengah, praktik hutan rakyat yang dikelola secara lestari telah bergulir sejak 10 tahun lalu. Sejumlah tanaman yang dikelola bahkan sudah diberikan sertifikasi. Mulai dari Mahoni, Jati, Albasia, Laban, Sengon, Sanakeling, Sungkai hingga ke Akasia yang ditanam kini telah dilabeli sebagai tanaman yang dikelola secara lestari.

Salah satu yang telah sukses adalah kelompok Koperasi Taman Wijaya Rasa (Kostajasa) di Kebumen dan kini telah diakui internasional lewat skema Forest Stewardship Council (FSC®). Sebanyak 1.200 anggotanya dari 27 kelompok tani hutan rakyat dengan total lahan terdaftar sebanyak 276 hektare, kelompok ini telah bisa menjual hasil hutannya hingga ke pasar internasional.

Baca  Dari Sampah, Guru di Bengkulu Bisa Terbang ke Nepal

Mekanisme pengelolaan hutan secara lestari yang digagas oleh kelompok itu, sukses menjadi inspirasi bahwa hutan itu memiliki manfaat lain selain kayu. Yakni keberlangsungan lingkungan dan masyarakat sekitar hutan.

Papan larangan berburu di lahan milik anggota Kopehral sebagai upaya untuk menjaga kelestarian ekosistem di lingkungan hutan yang dikelolanya/TFT Dok

Untung Karnanto, Program Officer Rurality The Forest Trust (TFT) Indonesia, seperti dikutip dalam siaran persnya, Jumat, 17 Maret 2017, menyebutkan, lewat sertifikasi kayu hutan yang diterapkan dalam FSC memang membuka jaringan pasar yang lebih luas bagi pengelolanya.

Meski begitu, ia mengingatkan bahwa hal terpenting di balik sebuah sertifikasi adalah bagaimana petani bisa menjalankan bisnis kayunya secara berkelanjutan. Harapan bahwa harga kayu bisa mendapat tempat dengan kelas harga premium di internasional mesti menjadi motivasi untuk berusaha secara berkelanjutan bagi kelompok tani hutan.

“Kami tidak mau meninabobokkan mereka dengan iming-iming kalau lolos maka secara otomatis akan mendapatkan premium price. Bagaimana menjualnya itu penting. Punya banyak sertifikat tapi nggak bisa menjual, ya percuma,” kata Untung yang kini mendampingi kelompok Kostajasa dan Kopehral di Jawa Tengah.

Adopsi keberhasilan

Baru-baru ini, keberhasilan Kostajasa diadopsi oleh Koperasi Petani Hutan Rakyat Lestari (Kopehral) di Klaten Jawa Tengah. Dengan total anggota sebanyak 25 kelompok tani hutan rakyat, sebanyak 15 diantaranya dengan total lahan seluas 128 hektare diajukan untuk audit sertifikasi FSC.

Baca  Mengapa Perempuan Penting Terlibat Menjaga Hutan

Apa yang kini telah dicicipi oleh Kostajasa di Kebumen memang memberi inspirasi. Atas itu, kini FSC pun melakukan proses pendataan untuk sertifikasi sejumlah produk hutan yang dibangun oleh Kopehral.

Dinda Trisnadi, auditor dari FSC yang melakukan penilaian terhadap kegiatan pengelolaan hutan oleh Kopehral menyebutkan, salah satu prasyarat penting agar sebuah kelompok bisa diakui FSC adalah pengelolaan hutannya secara lestari. Hal itu mencakup ekonomi, lingkungan dan sosial secara berimbang.

“Pengelolaan lestari itu harus peduli lingkungan,  secara ekonomi juga menguntungkan, dan secara sosial juga bertanggungjawab. Kalau salah satu timpang, nggak akan bisa lestari,” ujarnya.

Petani hutan rakyat anggota Kopehral sedang melakukan perawatan lahannya yang ditanami pohon jati/TFT dok

Dikatakan, dibanding hutan industri, jumlah luasan hutan rakyat khususnya di Jawa memang jauh lebih kecil. Karena skalanya lebih kecil, proses audit di hutan rakyat lebih sederhana. Dari tiga kriteria penilaian dalam audit FSC baik dari skala, intensitas, dan resiko di hutan rakyat jauh lebih kecil jika dibandingkan penilaian di hutan industri.

“Dari segi risiko, hutan alam itu jauh dari mana-mana, siapa yang ngawasi? Kalau di hutan rakyat seperti di Kopehral, lahan yang digunakan lahan milik anggota, luasannya juga kecil, maka risikonya juga kecil. Dari segi pengelolaan, mereka biasanya pakai model agro-forestry atau tumpangsari,” kata Dinda.