More Info

LivE Indonesia ID

LivE Indonesia adalah media pengelolaan informasi dan pengetahuan untuk pengelolaan sumber daya alam, dan lingkungan secara berkelanjutan.


Kami menampung siapa pun yang hendak berbagi informasi dan pengetahuan. Akses ini bisa dikirimkan ke redaksi LivE Knowledge di liveknowledge@hotmail.com


Kunjungi FB Page LivE di @liveknowledgeID atau jejaring Twitter di @knowledge_live
More Info

Hujan deras yang membasahi bumi Rafflesia sejak Jumat (26 April 2019) sore hingga Sabtu (27 April 2019) pagi telah menimbulkan bencana banjir dan longsor di 9 Kabupaten/Kota di Provinsi Bengkulu. Bencana ekologi ini mengakibatkan 25 jiwa meninggal, 3 jiwa hilang, 4 jiwa luka-luka, 458 jiwa mengungsi, 45.142 jiwa terdampak, dan 22.820 jiwa penduduk rentan meliputi 2.039 jiwa bayi, 7.400 jiwa balita, 1.742 jiwa ibu hamil dan 11.580 jiwa lansia.

Banjir dan longsor juga mengakibatkan 1.225 unit rumah rusak, 1.187 unit rumah terendam, ratusan unit fasilitas umum dan infrastruktur rusak, ribuan hektar kebun dan sawah warga mengalami kerusakan dan ribuan ekor ternak warga mengalami kematian. Dibandingkan 7 daerah lainnya, Kabupaten Bengkulu Tengah dan Kota Bengkulu merupakan daerah terparah.

Di Bengkulu Tengah tercatat 19 jiwa meninggal, 2 jiwa hilang, 3 jiwa luka-lua, 20.068 jiwa terdampak, 465 unit rumah rusak dan 125 unit rumah terendam. Sedangkan di Kota Bengkulu tercatat 3 jiwa meninggal, 17.213 terdampak, 476 unit rumah rusak, 4.660 rumah terendam dan 12.592 jiwa mengungsi.

Bencana banjir dan longsor terparah di Kabupaten Bengkulu Tengah dan Kota Bengkulu ini membuat publik dan pemangku kebijakan tersentak. Dorongan untuk mengetahui kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengkulu yang terletak di Kabupaten Bengkulu Tengah dan Kota Bengkulu, dan DAS Lemau yang terletak di Kabupaten Bengkulu Tengah pun meningkat.

Bagaimana kondisi DAS Bengkulu?

DAS Bengkulu berada di Kabupaten Bengkulu Tengah meliputi di Kecamatan Taba Penanjung, Karang Tinggi, Talang Empat dan Pondok Kelapa, dan Kota Bengkulu meliputi Kecamatan Gading Cempaka, Muara Bangkahulu dan Teluk Segara. Dalam materi presentasi yang disampaikan pada Rapat Evaluasi Pasca Banjir dan Longsor FKPD Provinsi Bengkulu (Senin, 27 Mei 2019), Suhartoyo dkk yang mewakili Forum DAS Provinsi Bengkulu menyebutkan, luas DAS Bengkulu adalah 50.049,83 ha.

Tutupan lahan DAS Bengkulu. Sumber, Suhartoyo dkk, 2019.

Wilayah DAS Bengkulu meliputi Areal Peruntukan Lain 38.046,17 ha (76%), TB Semidang Bukit Kabu 2.262,81 ha (4.5%), CA Taba Penanjung I 1,70 ha (0,003%), CA Taba Penanjung II 2,04 ha (0,004%), CA Danau Dusun Besar 612,86 ha (1,2%), HL Bukit Daun 5.522,24 ha (11,0%), HPT Rindu Hati 2.583,97 ha (5.2%), HP Semidang Bukit Kabu 852,11 ha (1,7%), dan HP Rindu Hati 165,94 ha (0.3%). Bila ditotalkan, luas kawasan hutan di DAS Bengkulu adalah 12.003,7 ha atau 24%.

Baca  Inisiatif Perempuan Terlibat Kelola TNKS, Rita Wati: Suara Kami Didengar

Terdapat delapan perusahaan tambang batubara yang mengantongi IUP di DAS Bengkulu, yakni: PT Ratu Samban Mining 4.984,9 ha (43,4%); PT Bara Mega Quantum 1.998,8 ha (17,4%); PT Bengkulu Bio Energi 987,3 ha (8,6%); PT Inti Bara Perdana 889,1 ha (7,7%); PT Danau Mas Hitam 797,7 ha (6,9%); PT Kusuma Raya Utama 743,8 ha (6,5%); PT Griya Pat Petulai Asri 734,3 ha (6,4%); dan PT Cipta Buana Seraya 362.9 ha (3,2%). Bila diakumulasi, luas IUP pertambangan batubara adalah 11.498,8 ha atau 23% dari luas DAS Bengkulu.

Dari 11.498,8 ha IUP pertambangan batubara, 3.914,6 ha masuk kawasan hutan, meliputi: PT Bara Mega Quantum 5,7 ha dan PT Ratu Samban Mining 783,4 ha di HL Bukit Daun, PT Inti Bara Perdana 52,3 ha, PT Danau Mas Hitam 137,4 ha dan PT Kusuma Raya Utama 30,2 ha di HP Semidang Bukit Kabu, PT Inti Bara Perdana 106,2 ha, PT Danau Mas Hitam 25,8 ha, PT Inti Bara Perdana 202,8 ha, PT Danau Mas Hitam 236,7 ha dan PT Bara Mega Quantum 1.620,5 ha di HP Rindu Hati, dan PT Kusuma Raya Utama 713,6 ha di TB Semidang Bukit Kabu. “IUP Pertambangan 32,61% (3.914,6 ha) dari seluruh kawasan hutan di DAS Bengkulu,” tulis Suhartoyo dkk.

Tutupan lahan DAS Bengkulu. Sumber: Suhartoyo dkk, 2019

Ditinjau dari tutupan lahan, Suhartoyo dkk menyebutkan, Pertanian Lahan Kering Campur 34.658,6 ha (69,2%), Belukar 5.022,9 ha (10%), Hutan Lahan Kering Sekunder 3.655,7 ha (7,3 %), Pemukiman 2.642,0 ha (5,3%), Sawah 1.295,8 ha (2,6%), Belukar Rawa 619,3 ha (1,2%), Perkebunan 508,6 ha (1,0%), Badan Air 316,6 ha (0,6%), Tanah Terbuka 16.9 ha (0,03%), dan Pertambangan 1.313,5 ha (2,6%). “IUP Pertambangan 23%, yang sudah dieksploitasi 2,6% (dari seluruh wilayah DAS Bengkulu),” tulis Suhartoyo dkk.

Baca  Perempuan dan Lingkungan Hidup Tidak Bisa Dipisahkan, Tapi...

Bagaimana kondisi DAS Lemau?

Sayangnya, Suhartoyo dkk tidak menginformasikan kondisi DAS Lemau. Namun, hasil penelitian Setyo dkk (2013) bisa menjadi salah satu referensinya. Menurut Setyo dkk, luas DAS Lemau sekitar 51.493 ha. Seluruh areal DAS Lemau berada di Kabupaten Bengkulu Tengah meliputi di Kecamatan Bang Haji, Pagar Jati, Merigi Sakti, Merigi Kelindang, Taba Penanjung, Karang Tinggi, Pematang Tiga, Pondok Kubang, Pondok Kelapa.

Tutupan lahan DAS Lemau. Sumber: Setyo dkk, 2013

Tutupan lahan di DAS Lemau meliputi Hutan Lahan Kering Sekunder 2.143,6 ha (4,2%), Semak Belukar 4.112,2 ha (8,0%), Perkebunan 4.197,3 ha (8,2%), Tubuh Air 132,9 ha (0,3%), Pertanian Lahan Kering 320 ha (0,6%), Pertanian Lahan Kering Bercampur Semak 39.577,5 ha (76,9%), Sawah 469 ha (0,9%) dan Pertanian Lahan Kering Bercampur Semak 540,4 ha (1,0%).

Tutupan lahan DAS Lemau. Sumber: Setyo dkk, 2013

Setyo dkk mengungkapkan, sebagian besar wilayah DAS Lemau berada dalam kategori mulai kritis yaitu 27.542,3 ha (53,5%) dan 15.368,5 ha (29,8%) dalam keadaa normal alami, sedangkan 8.581 ha (16,7%) berada dalam kategori baik. Kategori mulai kritis mengindikasikan telah terjadi perubahan tataguna lahan untuk berbagai penggunaan yang dapat menurunkan infiltrasi alami.

“Seperti perkebunan yang tidak memperhatikan kaidah konservasi, pertanian lahan kering semusim, meningkatnya lahan terbuka tanpa vegetasi dan meluasnya areal untuk pemukiman. Selain itu, pada daerah hulu DAS, juga terjadi alih fungsi lahan hutan untuk pertanian dan perkebunan,” tulis Setyo dkk.

Setyo dkk juga mengungkapkan Hutan Lindung Bukit Daun di DAS Lemau seluas 11.391,6 ha, dan sebagian besar telah berubah tutupannya menjadi peruntukan lain. “81,7 % atau sekitar 9.306,5 ha telah berubah fungsi menjadi areal yang tanpa vegetasi hutan (semak belukar, dan bentuk-bentuk perambahan hutan lainnya),” ungkap Setyo dkk.
Sumber:

Setyo, H. Kanang, Hidayat, M. Fajrin dan Depari, E. Efratenta, 2013, Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) Untuk Pemodelan Spasial Disain Tata Guna Lahan DAS Lemau Berdasarkan Tingkat Kekritisan Daerah Resapan, Laporan Tahunan/Akhir Hibah Bersaing.

Suhartoyo, Hery, Hidayat, M. Fajrin dan Suharto, Edi (Forum Das Provinsi Bengkulu), 2019, Pengelolaan DAS di Provinsi Bengkulu, Materi Presentasi yang disampaikan Pada Rapat Evaluasi Pasca Banjir dan Longsor FKPD Provinsi Bengkulu, 27 Mei 2019.