Harry Siswoyo
Follow Me

Harry Siswoyo

Jurnalis, penggemar kopi hitam dan fotografi. Berminat dalam isu lingkungan hidup, sosial dan kebudayaan.
Harry Siswoyo
Follow Me

Anak-anak di pedalaman hutan itu menyimpan cita-cita murni. Apa yang terlintas di kepala mereka belum tersentuh sinetron atau game di dalam telepon seluler yang kini merayap di kepala anak-anak kekinian. Yasmin dan Karim, dua sosok anak kecil di pedalaman hutan Kalimantan menjadi salah satu contoh. Ketika yang lain memilih bercita-cita jadi dokter atau pilot, keduanya justru memilih cita-cita unik. Bagaimana cerita keduanya? Simak artikel berikut.

LivE Knowledge  – Gelak tawa pecah di ruang kelas IV milik Sekolah Dasar Negeri 1 Mekartani Kabupaten Katingan Kalimantan Tengah, ketika belasan siswa mendengar yang dilontarkan Yasmin dan Karim saat keduanya menyebut cita-cita mereka.

“Saya ingin jadi pemadam kebakaran,” tutur Yasmin dan Karim nyaris bersamaan.

Apa yang dilontarkan Yasmin dan Karim bukan tanpa alasan. Meski sempat ditertawai oleh rekan kelasnya, keduanya tetap kukuh dengan keinginan mereka.

“Desa kami tak punya pemadam kebakaran. Jadi kalau hutan kami terbakar, paling tidak kami ada,” ujar bocah lelaki berkulit gelap ini sembari mencibir rekannya yang lain.

Akhir tahun 2015 lalu, SDN 1 Mekartani sempat libur selama sebulan penuh. Desa mereka tertutup kabut asap usai kebakaran di kawasan hutan melanda selama beberapa waktu.

Saat itu, pengakuan sejumlah siswa. Selain tak bisa bersekolah, mereka juga tak bisa lagi bermain keluar rumah. “Kami juga lihat orangutan menangis, ada juga yang berlarian,” ujar rekan Yasmin yang lain.

Ilustrasi/Petugas pemadam kebakaran hutan yang melanda wilayah Sumatera pada tahun 2015

Cita-cita Yasmin, Karim dan rekannya di pedalaman Mendawai Kalimantan Tengah, memang menyentuh. Maklum, semangat itu lahir dari segala keterbatasan yang mendekap selama puluhan tahun di lingkungan mereka.

Baca  JoAnn Tall, Penentang Uji Coba Senjata Nuklir

Dan tentu, tak luput juga dari sentuhan pendidikan di SDN 1 Mekartani. Sekolah rintisan yang kini didampingi oleh The World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia, ini memang mengedepankan konsep pendidikan terintegrasi dengan lingkungan hidup dan prinsip keberlanjutan.

Sebab itu, jangan heran kalau di sekolah ini. Hampir seluruh siswanya piawai berkebun, menanam bunga, kacang dan tanaman lainnya.

Tak cuma itu. Mereka pun juga dibekali kemampuan membuat anyaman tas dari bahan lokal yakni pohon Purun. “Semua dilakukan siswa. Kami juga meminta bantuan masyarakat, untuk mengenalkan siswa kami membuat kompos dan pakan ternak,” kata Marsini, Kepala SDN 1 Mekartani.

Konsep belajar kini tak lagi hanya terkungkung di ruang kelas. Siswa pun dibuat aktif menyenangi apa yang ada di sekitar mereka. Hutan, sungai, ladang dan apa yang ada di tengah masyarakat menjadi guru bagi seluruh siswa.

“Ruang kelas bukan cuma satu-satunya tempat belajar. Kami ingin menanamkan cara hidup berkelanjutan sejak dini,” tutur kepala sekolah peraih penghargaan Adiwiyata Nasional tersebut.

Sebab itu, maklum adanya kenapa seluruh siswa di SDN 1 Mekartani sudah berwawasan hijau. Penghargaan mereka terhadap alam, tak cuma terwujud dari tindakannnya namun juga sudah menembus hingga ke mimpi mereka selepas dari sekolah.

Atas itu lah, kenapa Yasmin dan Karim memiliki mimpi untuk jadi pemadam kebakaran. Meski sederhana, namun mimpi itu menembus batas dari rata-rata harapan dari seluruh siswa yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Baca  Berdayakan Perempuan Penjaga Warisan Dunia

“Hutan terbakar, kami, orangutan, dan penduduk desa juga bisa mati. Karena itu hutan harus dilindungi dari api,” ujar Karim sembari membenarkan tali sepatunya yang sejak tadi terlepas.

Siswa di SDN 01 Mendawai Kalimantan Tengah

FOTO: Siswa di SDN 01 Mekartani Kecamatan Mendawai Kalimantan Tengah. Di sekolah ini seluruh murid dilarang menggunakan sepatu di dalam kelasnya/Harry Siswoyo

Secara geografis, Desa Mekartani, merupakan salah satu desa yang terdapat di Kecamatan Mendawai. Letaknya terpelosok sejauh lima jam perjalanan sungai dari ibu kota Kabupaten Katingan, Kasongan.

Mayoritas penduduknya adalah peserta program transmigrasi dari pulau Jawa sejak tahun 1984 dan sebagian besarnya berprofesi sebagai petani.

Namun, meski telah 32 tahun, desa ini tetap belum memiliki akses kendaraan. Seluruhnya praktis hanya bisa dijangkau lewat Kelotok, yakni perahu kecil dengan kapasitas penumpang antara lima sampai delapan orang.

Terlepas dari itu, apa yang dilakukan masyarakat dan sekolah di Mekartani memang mengagumkan. Saling sinergis dan terlibat satu sama lain, membuat pendidikan jadi lebih mudah.

Semua berbagi pengetahuan dan pengalaman tanpa sekat. Setiap orang pun memiliki tanggungjawab penting bagi pendidikan anak-anak mereka.

“Pendidikan dengan tidak mengandalkan ruang kelas ini sejalan dengan konsep pemerintah yang ingin menegaskan bahwa sekolah itu tempat yang menyenangkan,” ujar staf khusus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Chozim yang ikut menyambangi SDN 1 Mekartani.

Dan kini, Mekartani terus berjuang. Keterbatasan menempa mereka menjadi tangguh dan tak takut hambatan. Begitu pun semangat Yasmin, Karim dan seluruh rekannya. Semuanya terus berpendar dan mengalir layaknya Sungai Katingan yang menjaga mereka.

* Artikel ini pernah ditayangkan di laman VIVA.co.id

* Ingin berbagi di laman LivE Indonesia ID, silakan kirimkan tulisan/foto atau video ke alamat redaksi di liveknowledge@hotmail.com