More Info

LivE Indonesia ID

LivE Indonesia adalah rumah komunitas penyedia pengelolaan informasi dan pengetahuan untuk pengelolaan sumber daya alam, dan lingkungan secara berkelanjutan.


Kami juga menampung siapa pun yang hendak berbagi informasi dan pengetahuan ke ruang Live Indonesia ID. Akses ini bisa dikirimkan ke redaksi LivE Knowledge di liveknowledge@hotmail.com


Kunjungi FB Page LivE di @liveknowledgeID atau jejaring Twitter di @knowledge_live
More Info

Kepala Seksi Wilayah VI Bengkulu BBTNKS, Zainuddin menanggapi pertanyaan yang disampaikan peserta diskusi di Kantor Bidang 3 BBTNKS, Jumat (15/9).

Kepala Seksi Wilayah VI Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS), Zainuddin menawarkan untuk membuat kerjasama kepada Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KPPL) “Maju Bersama” Desa Pal VIII. Tawaran itu disampaikan Zainuddin saat merespon pertanyaan Ketua KPPL Maju Bersama Rita Wati dalam diskusi reguler bertema “Mitra Konservasi: Pemberdayaan Masyarakat (Perempuan) di Kawasan Konservasi” di ruang pertemuan kantor Bidang 3 Wilayah Bengkulu – Sumatera Selatan BBTNKS di Curup, Rejang Lebong pada Jumat (15/9).

Kepala Seksi Wilayah VI Bengkulu BBTNKS, Zainuddin menanggapi pertanyaan yang disampaikan peserta diskusi di Kantor Bidang 3 BBTNKS, Jumat (15/9).

Dalam pengantar, Zainudin memaparkan rencana pengembangan ekowisata di kawasan Madapi (Mahoni, Damar dan Pinus) di Desa Pal VIII dan Air Terjun Batu Betiang di Desa Babakan Baru. BBTNKS akan melakukan pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan ekowisata tersebut. Usai mendengar paparan, Rita Wati menanyakan peluang pemanfaatan kawasan Madapi untuk membuat kebun/taman bunga dan kebun obat-obatan.

Baca  Jendela Perempuan Desa Situs Warisan Dunia, Agustus 2017

Keinginan KPPL Maju Bersama memanfaatkan kawasan Madapi untuk berkontribusi melestarikan TNKS sekaligus meningkatkan kesejahteraan perempuan. “KPPL, kalau saja bisa mendapat izin, ingin membuat kebun bunga dan tanaman obat-obatan di sana…, KPPL sudah membuat pupuk organik dan memasukannya ke polibek. Sekarang kami lagi mengujicobanya, rencananya akan menggunakan pupuk organik (untuk membuat kebun bunga dan obat-obatan),” kata Rita Wati. Baca juga Perempuan Desa Pal VIII Ingin Kelola Potensi Wisata di Hutan Warisan Dunia

“Kapan mau buatnya? Bagus sekali itu, saya pengennya seperti itu, ada ide-ide dari ibu-ibu…, KPPL buat surat ke TNKS…, Sebenarnya lebih bagus kita ikat dengan kerjasama… Ada perjanjian, ada kewajiban dan hak yang menjadi pegangan kita. Kalau KPPL sudah bekerjasama dengan TNKS, maka komunikasi kita tidak ada jarak lagi… Dan itu akan menjadi point sendiri, belum ada peran dari masyarakat, khususnya kelompok perempuan,” kata Zainuddin.

Perwakilan KPPL Maju Bersama, perwakilan perempuan Desa Babakan Baru dan Karang Jaya dan KPPSWD berfoto bersama Kepala Bidang 3 Wilayah Bengkulu – Sumatera Selatan BBTNKS, Iwin Kasiwan didampingi Kepala Seksi Wilayah VI Bengkulu BBTNKS, Zainuddin usai diskusi di Kantor Bidang 3 BBTNKS, Jumat (15/9).

Bambu untuk Anyaman

Selain dihadiri perwakilan KPPL Maju Bersama Desa Pal VIII, diskusi juga dihadiri perwakilan perempuan Desa Babakan Baru dan Karang Jaya, serta Komunitas Perempuan Penyelamat Situs Warisan Dunia. Zainuddin juga merespon pertanyaan perwakilan perempuan Desa Babakan Baru, Dharwati mengenai peluang memperoleh akses pemanfaatan bambu di kawasan TNKS untuk bahan baku pembuatan anyaman yang direncanakan untuk menjadi souvenir wisata. Baca juga Berharap Diberikan Izin untuk Manfaatkan Bambu di TNKS

Kepala Bidang 3 Wilayah Bengkulu – Sumatera Selatan BBTNKS, Iwin Kasiwan didampingi Kepala Seksi Wilayah VI Bengkulu BBTNKS, Zainuddin mengapresiasi dan memotivasi Ketua KPPL Maju Bersama, Rita Wati dan Ketua dan Wakil Ketua KPPSWD, Eva Juniar Andika dan Intan Yones Astika usai diskusi di Kantor Bidang 3 BBTNKS, Jumat (15/9).

“Kalau ada ide seperti itu, organisasi atau kelompok yang ada, bersurat ke TNKS. Nanti, kita cek sama-sama, apakah memang masuk kawasan TNKS atau tidak, dan bisa kaji bersama bagaimana kelompok itu punya program keberlanjutan bahan baku untuk membuat anyaman,” kata Zainuddin. Bagi Zainuddin, rencana pengembangan produk anyaman menjadi souvenir wisata bisa selaras dengan rencana pengembangan ekowisata Air Terjun Batu Betiang.

Air Terjun Batu Betiang dengan dinding menyerupai batu yang disusun