Eva Juniar
Follow Me
Eva Juniar
Follow Me

Latest posts by Eva Juniar (see all)

Sepeda Cokelat ke Lentera

Mentari datang mengusap embun damai
Pertanda seruan menuju lentera hijau putih

Merangkak dengan ayunan sepeda cokelat

Pisau sadap adalah pena hidup
Loyang pembeku adalah materi berharga

Nafas berdegup kencang di penghujung
Peluh menata muka pucat basah

Tak kala puncak sukses hampir diraih
Kuhampiri satu persatu kertas berdiri

Kutulisi dengan riangnya kertas berdiri

Kubuat terluka sampai mengalir putih
Putih dari hijau untuk bahagiaku

Jaraknya dan besarnya tak menghisap semangatku

Menghampiri setiap barisan dan terus melangkah

Aku hampiri untuk mengambil buliran jatuh

Aku menyukai aliran lateks ke talang
Pertanda semua barisan siap dirampas

Dirampas getah putih mengisi Loyang
Kakiku lemas peluhku mengalir deras

Namun, senyum dindaku bergejolak
Senyumku lebar di kertas terakhir

Aku kayuh kembali sepeda cokelat
Gemetar kaki masih belum terhenti

Hamparan hijau menampar setiap perjalanan

Kubawa Loyang untuk adinda menulis
Menulis dikertas sebenarnya

Dari kertas yang kulukai setiap pagi buta

Kujaga mereka sang lentera hijau putih

Mereka barisan pohon karet
Laksana bumi pertiwi untuk masa depan

Penyambung nafas keluargaku
Bersama sepeda cokelat

Sungai Sumatra

Sungai ku yg indah, bersih, jernih dan segar.

Baca  Gangguan Keutuhan Situs Warisan Dunia Berdampak Nyata Bagi Perempuan Desa

Merupakan aliran jerih hutan Sumatra
Tersebar di sepanjang pelosok desa
engkau banyak menyimpan kekayaan alam.

Engkau adalah salah satu anugrah Tuhan yang tak tertandingi.
engkau juga merupakan sumber penghidupan kami.

Engkau tempat kami mencari nafkah,
air mu kami manfaatkan untuk kehidupan sehari hari.

Mulai dari kebutuhan pribadi hingga kebutuhan bersama.

Sekarang dirimu sudah tidak seelok dulu lagi.

Kau nampak terlihat sedih dengan keadaan mu.

Air mu sekarang sdh bercampur dengan lumpur, minyak dan sampah.

Bahkan ikan ikan yan dulu banyak sekarang ntah ke mana.

Semua itu adalah perbuatan kami,
kami yang membuang sampah ke tubuh mu.

Kami yang membuang racun ke tubuh mu ketika kami mancari ikan,
kami yang merusak lingkungan di sekitar mu.

Semuanya itu kami lakukan hanya untuk kepentingan pribadi dan sesaat.

Sehingga kami tidak bisa lagi memanfaatkan mu dengan bijak.
padahal sudah banyak yang engkau berikan pada kami.

Sekarang menjaga mu pun kami tidak bisa.

Kami sadar semuanya itu adalah salah, tapi sekarang kami mencoba untuk menjaga mu, menjaga semua aliran kehidupan dari
hutan Sumatra yang mengaliri kehidupan anak sumatra
agar anak anak kami klak bisa menikmati anugrah tuhan yang di berikan ini.

 
Oleh: Eva Juniar Andika