More Info

LivE Indonesia ID

LivE Indonesia adalah media pengelolaan informasi dan pengetahuan untuk pengelolaan sumber daya alam, dan lingkungan secara berkelanjutan.


Kamimenampung siapa pun yang hendak berbagi informasi dan pengetahuan. Akses ini bisa dikirimkan ke redaksi LivE Knowledge di liveknowledge@hotmail.com


Kunjungi FB Page LivE di @liveknowledgeID atau jejaring Twitter di @knowledge_live
More Info

Oleh: Indah Purnama Sari

Puding Merah merupakan salah satu tumbuhan liar di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang memiliki arti penting bagi perempuan Rejang. Diwariskan secara turun temurun, perempuan Rejang yang sudah melahirkan dianjurkan memanfaatkan daunnya dengan meminum dan mandi air rebusannya.

“Setelah melahirkan, kami (perempuan Rejang) disarankan untuk meminum air rebusannya yang dicampur dengan gula merah. Selain untuk menambah kekuatan (stamina) tubuh, juga bagus untuk memperlancar aliran darah saat masa nifas. Jadi, dianjurkan untuk meminumnya selama 40 hari atau masa nifas,” kata warga Desa Babakan Baru, Siti Maimun, belum lama ini.

Baca  Hadapi Risiko Sawah Gagal Panen Akibat Banjir

Selain diminum, air rebusan daun puding merah juga digunakan untuk mandi. Daun puding merah direbus bersama dengan daun jeruk nipis dan sirih. “Tradisi mandi menggunakan air rebusan daun puding merah yang dicampur daun limau dan sirih ini merupakan tradisi pembersihan diri bagi perempuan Rejang yang sudah melahirkan,” kata warga Desa Babakan Baru lainnya, Beti Asmara.

Puding merah, salah satu tumbuhan yang tumbuh alami di kawasan TNKS. Foto ilustrasi:www.satuharapan.com

Mandi air rebusan daun puding merah juga memiliki khasiat bagi kesehatan. “Bermanfaat mengurangi rasa nyeri atau kaku di persendian dan pegal-pegal. Tradisi mandi menggunakan air rebusan daun puding merah ini biasanya dilakukan pada pagi dan sore hari atau paling tidak pada pagi hari, dan dilakukan selama masa nifas atau 40 hari,” tambah Beti.