More Info

LivE Indonesia ID

LivE Indonesia adalah media pengelolaan informasi dan pengetahuan untuk pengelolaan sumber daya alam, dan lingkungan secara berkelanjutan.


Kamimenampung siapa pun yang hendak berbagi informasi dan pengetahuan. Akses ini bisa dikirimkan ke redaksi LivE Knowledge di liveknowledge@hotmail.com


Kunjungi FB Page LivE di @liveknowledgeID atau jejaring Twitter di @knowledge_live
More Info

Oleh: Oktaviana Hendri Y

Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) bukan hanya habitat beragam tumbuhan yang bermanfaat untuk bahan baku membuat kerajinan, pangan, rempah dan obat-obatan bagi perempuan desa sekitarnya. TNKS juga merupakan habitat bagi tumbuhan yang menghasilkan buah yang dipercaya bisa “menjaga” perempuan hamil dan melahirkan dari gangguan mahluk halus atau roh jahat.

“Kami (Rejang) menyebutnya dien imbo atau durian hutan. Tradisi turun temurun. Menurut orangtua atau sesepuh, perempuan yang hamil dan baru melahirkan mengeluarkan bau sangat harum yang bisa mengundang mahluk halus datang dan mengganggu. Kalau ada durian hutan, dipercaya mahluk halus tidak berani datang,” kata Suryati, warga Desa Babakan Baru belum lama ini.

Foto Ilustrasi: www.chroniclenewspaper.com

Disebut durian hutan karena bentuknya mirip dengan durian. Kulit buahnya berduri dan berwarna kecoklat-coklatan. Namun, ukurannya lebih kecil dan tidak memiliki isi. Walau tumbuh liar, namun tidak mudah untuk menemukan pohon dan buahnya. Membutuh bantuan “orang pintar”. “Nasib-nasiban. Kalau bernasib baik, ketemu. Buah yang jatuh yang diambil, bukan dipetik dari pohon,” tambah Suryati.

Baca  Dari Sampah, Guru di Bengkulu Bisa Terbang ke Nepal

Buah durian hutan diletakkan di atas pintu bagian luar rumah atau kamar tidur perempuan hamil atau melahirkan. “Karena sulit untuk menemukannya, tidak mesti setiap perempuan hamil memiliki. Boleh meminjam dari tetangga atau keluarga. Memang, lama kelamaan akan mengering dan membelah. Namun, selagi tidak hancur atau rusak, masih bisa digunakan,” kata Suryati.

Selain digunakan untuk “menjaga” perempuan hamil dan melahirkan dari gangguan mahkluk halus, buah durian hutan juga digunakan oleh masyarakat Rejang sebagai “syarat” membangun rumah agar rumah yang dibangun tidak menjadi tempat persinggahan atau tinggal mahluk halus atau roh jahat. “Digantung atau diletakkan di bagian atap rumah,” kata Manisa, warga Desa Pal VIII.