More Info

LivE Indonesia ID

LivE Indonesia adalah media pengelolaan informasi dan pengetahuan untuk pengelolaan sumber daya alam, dan lingkungan secara berkelanjutan.


Kamimenampung siapa pun yang hendak berbagi informasi dan pengetahuan. Akses ini bisa dikirimkan ke redaksi LivE Knowledge di liveknowledge@hotmail.com


Kunjungi FB Page LivE di @liveknowledgeID atau jejaring Twitter di @knowledge_live
More Info

Oleh : Febrina*

Perubahan kondisi Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang ditetapkan sebagai bagian dari warisan dunia berdampak negatif terhadap aktivitas pertanian di desa sekitar TNKS. Bukan hanya meningkatkan biaya pembelian pupuk, tetapi juga bisa menurunkan hasil panen, bahkan memicu kegagalan panen. Warga Desa Pal VIII yang mengandalkan pendapatan dari bertani, Sumiati (70) mengungkapkan hal tersebut.

Ditemui di rumahnya pada Minggu (4/6/17), Sumiati mengatakan, kondisi suhu udara saat ini jauh berbeda dibandingkan beberapa waktu lalu. “Dulu sangat sejuk. Walau musim panas, namun tetap merasa sejuk. Berbeda dengan sekarang, suhu udara cukup panas, jarang sekali bisa merasakan sejuk seperti dulu, saat hutan (TNKS) belum ada campur tangan manusia,” kata Sumiati yang mulai menetap di Desa Pal VIII pada tahun 1970-an.

Baca  Perempuan dan Lingkungan Hidup Tidak Bisa Dipisahkan, Tapi...

Akibat kenaikan suhu udara, perlahan tanah menjadi gersang dan kurang subur. Sehingga, pemakaian pupuk terus bertambah, bahkan telah menimbulkan ketergantungan. “Menanam sayur saja sudah tidak bisa alami lagi (tanpa pupuk), melainkan bergantung dengan pupuk. Jika tidak menggunakan pupuk, hasil panen akan sedikit, bahkan bisa gagal panen,” tambah Sumiati.

Keberadaan TNKS bukan cuma penting bagi kestabilan suhu udara dan kesuburan tanah, tetapi juga menjadi tempat masyarakat mencari obat-obatan dan pangan untuk rumah tangga dan dijual sebagai pendapatan. “Banyak obat yang diambil dari hutan. Apalagi waktu dulu, sebelum ada puskesmas,” ujar Sumiati yang dulunya adalah perangkat pemerintah desa.

Misalnya obat untuk penyakit batuk, dibuat dengan mengambil air dari pohon unji (kecombrang) dan lengkuas. Sedangkan obat untuk penyakit kulit gatal-gatal dan herpes, warga biasanya memanfaatkan biji Mahoni. “Untuk sayur juga banyak. Pakis, unji, umbut rotan, cempokak atau rimbang dan lainnya. Diambil bukan cuma untuk dimasak di rumah, tapi juga ada yang menjualnya,” cerita Sumiati.

Sedangkan buah yang biasa diambil dari kawasan TNKS adalah rambutan hutan, durian hutan, pisang hutan, arbei dan banyak lagi. Sumiati berharap, kondisi TNKS dapat dipulihkan kembali. Sehingga, bisa mengurangi risiko petani memperoleh hasil panen sedikit atau gagal panen.

Warga Desa Pal VIII lainnya, Purwani (45) mengatakan, pemulihan kondisi TNKS diperlukan untuk menghindari masyarakat dari ancaman bencana longsor dan banjir, serta kekeringan yang dapat membuat petani tidak bisa maksimal bertani. Padahal, hampir sebagian besar penduduk Desa Pal VIII dan desa lainnya yang bersentuhan dengan TNKS mengandalkan pendapatan dari hasil bertani.

Baca  Perlancar ASI, Konsumsi Jantung Pisang dari TNKS

*Febrina adalah Anggota Komunitas Perempuan Penyelamat Situs Warisan Dunia (KPPSWD)