More Info

LivE Indonesia ID

LivE Indonesia adalah rumah komunitas penyedia pengelolaan informasi dan pengetahuan untuk pengelolaan sumber daya alam, dan lingkungan secara berkelanjutan.


Kami juga menampung siapa pun yang hendak berbagi informasi dan pengetahuan ke ruang Live Indonesia ID. Akses ini bisa dikirimkan ke redaksi LivE Knowledge di liveknowledge@hotmail.com


Kunjungi FB Page LivE di @liveknowledgeID atau jejaring Twitter di @knowledge_live
More Info

Oleh : Tantri Maya Sari*

Sejak beberapa tahun ini, sebagian perempuan di Desa Karang Jaya, Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong telah dihadapkan masalah baru sebagai dampak dari perubahan kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang merupakan bagian dari warisan dunia. Bila mengalami musim kemarau cukup panjang, sumber air bersih dari kawasan TNKS yang selama ini dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga, mengering.

Sehingga, mereka terpaksa untuk mengangkut air dari sumber lainnya. “Mau tidak mau, kami harus mengangkut air,” kata Luci Lestari dalam diskusi di Kantor Desa Karang Jaya pada Sabtu (13/5/2017). Selain Luci Lestari yang merupakan pengurus PKK Desa Karang Jaya, diskusi juga dihadiri Ketua PKK Desa Karang Jaya Novita Yanti dan pengurus PKK lainnya, Ainun Kulsum dan Heni Kusmawati.

Baca  Mengapa Kita Tidak Belajar dari Ibu Suminah?

Oleh karena itu, kehadiran musim kemarau membuat beban mereka bertambah. Mereka harus menyediakan waktu dan tenaga untuk mengangkut air menggunakan jerigen dari sumur warga desa tetangga yang berjarak kisaran 500 meter – 1 kilometer. Padahal, beban pekerjaan rumah tangga seperti memasak, menyuci dan lainnya tidak berkurang.

Aktivitas mengangkut air biasanya mereka lakukan pada siang hari. Sebab, pada pagi hingga menjelang siang hari, mereka ikut bekerja di kebun bersama suami. Air diangkut untuk diisi ke bak penampungan air di rumah untuk berbagai keperluan rumah tangga, termasuk kebersihan diri. “Kalau kemarau panjang, beban pikiran kami pun bertambah,” kata Luci.

Agak berbeda di Desa Babakan Baru, Kecamatan Bermani Ulu Raya, Kabupaten Rejang Lebong. Selain untuk rumah tangga, sebagian perempuan di desa yang juga bersentuhan dengan TNKS ini sangat membutuhkan air untuk pekerjaan di sawah baik selaku pemilik maupun pekerja upahan. “Tidak bisa menanam. Kami pernah terpaksa menunda musim tanam hingga 7 bulan akibat kekeringan,” cerita Sri Nurlela di rumah kepala Desa Babakan pada Rabu (17/5).

Terhentinya pekerjaan di sawah membuat perempuan tertekan. Peluang mempersiapkan ketersediaan beras untuk rumah tangga dan memperoleh pendapatan menjadi hilang. “Jadi stres. Selain memikirkan kebutuhan air untuk rumah tangga, juga harus memikirkan pekerjaan pengganti agar bisa punya pendapatan untuk membeli beras. Mencari upahan di kebun juga susah karena juga mengalami kekeringan,” ujar Sri.

Baca  Perempuan Petani: Perubahan Kondisi Warisan Dunia Berdampak Terhadap Pertanian

“Tantri Maya Sari adalah anggota Komunitas Perempuan Penyelamat Situs Warisan Dunia (KPPSWD)