More Info

LivE Indonesia ID

LivE Indonesia adalah media pengelolaan informasi dan pengetahuan untuk pengelolaan sumber daya alam, dan lingkungan secara berkelanjutan.


Kami menampung siapa pun yang hendak berbagi informasi dan pengetahuan. Akses ini bisa dikirimkan ke redaksi LivE Knowledge di liveknowledge@hotmail.com


Kunjungi FB Page LivE di @liveknowledgeID atau jejaring Twitter di @knowledge_live
More Info

Praktik konversi hutan menjadi kebun kopi monokultur yang berkontribusi memicu degradasi lingkungan hidup dan perubahan iklim telah menimbulkan permasalahan serius bagi petani kopi di Provinsi Bengkulu. Bukan hanya penurunan produktivitas dan kualitas kopi, petani juga dihadapkan dengan masalah kematian pohon kopi akibat serangan hama dan penyakit baru.

Peserta diskusi “Kopi Tangguh Iklim” yang digelar #AksiKomunikatifIklim di Kantor BKSDA Bengkulu pada Sabtu (2/11/19).

Terhadap hal tersebut, Kepala Desa Batu Ampar, Kabupaten Kepahiang, Herwan Iskandar berinisiatif untuk membangun Desa Kopi Tangguh Iklim dengan mengajak warganya merevitalisasi kearifan lokal: kebun kopi polikultur. “Kami siap, Insya Allah,” ujar Herwan usai mendengarkan pemaparan akademisi Jurusan Kehutanan Universitas Bengkulu, Yansen, Ph. D dalam diskusi “Kopi Tangguh Iklim” yang digelar #AksiKomunikatifIklim di Kantor BKSDA Bengkulu pada Sabtu (2/11/19). “Untuk mewujudkannya, kami membutuhkan dukungan dari banyak pihak.”

Baca  Perempuan, Integrasi Budidaya Lebah Madu dan Agroforestri di Desa Penyanggah Hutan Warisan Dunia

Kebun kopi berpola polikultur, terang Yansen, merupakan kearifan lokal dan pola yang berorientasi jangka panjang. Selain selaras dengan upaya konservasi keanekaragaman hayati, air, tanah, menjaga kestabilan iklim mikro dan membangun ketangguhan ekosistem, menanam beragam jenis tumbuhan di areal kebun kopi juga berdampak positif terhadap peningkatan produktivitas dan kualitas kopi, serta kesejahteraan petani akibat petani memiliki pendapatan tambahan dari hasil tanaman lainnya.

“Dalam konteks perubahan iklim, langkah mengembangkan kebun kopi polikultur merupakan langkah membangun ketangguhan perubahan iklim,” kata Yansen. Membangun kebun kopi polikultur secara bersamaan akan berkontribusi untuk meningkatkan serapan dan simpanan karbon (mitigasi perubahan iklim) dan mengurangi risiko petani kopi terhadap dampak dari perubahan iklim (adaptasi perubahan iklim).

Kepala BKSDA Bengkulu Donal Hutasoid menilai, langkah mendorong agar masyarakat yang terlanjur berkebun kopi di kawasan hutan konservasi yang ingin menjalin kemitraan konservasi mengembangkan pola polikultur sangat potensial untuk dilakukan. “Saya kira saran pak Yansen itu sangat tepat. Kopi berpola polikultur sangat pro-lingkungan, pro-ekonomi, termasuk pro-sosial budaya.” Di kawasan Taman Wisata Alam Bukit Kaba misalnya, BKSDA Bengkulu menyebutkan, hampir separuh dari 14.650 Ha luasnya telah ditanami kopi.

Kopi, Aren dan Bambu yang dikembangkan warga Desa Batu Ampar, Kepahiang.

80 % Areal Perhutanan Sosial Ditanami Kopi

Sebagian dari kawasan hutan lindung di Provinsi Bengkulu juga telah ditanami kopi. Dalam diskusi “Kopi, Hutan dan Perubahan Iklim” yang digelar #AksiKomunikatifIklim di Kantor BMKG Fatmawati Soekarno pada Senin (20/9/19), Kepala Bidang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Bengkulu, Safnizar mengungkapkan, 80 persen dari 48.161 hektar hutan lindung yang menjadi areal perhutanan sosial merupakan areal yang sudah menjadi kebun kopi.

Baca  Selain Beras, Ilmu Apa yang Bisa Dipetik dari Sawah

“Kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Hutan memberikan toleransi tanaman kopi di kawasan hutan lindung sejauh ada tanaman berkayu (pohon),” kata Safnizar. Namun, kebun kopi di kawasan hutan lindung berpola monokultur. Ironisnya pula, petani kopi membuat pohon kopi menjadi kerdil dan melebar, sehingga mempersempit peluang untuk ditanami dengan tanaman lain atau pohon. “Akibatnya, semakin luas kawasan hutan yang terbuka.”

Petani kopi, lanjut Safnizar, telah mengalami masalah penurunan produktivitas dan kualitas kopi, dan menghadapi peningkatan serangan hama dan penyakit akibat perubahan iklim. Namun, petani kopi tidak memahami bila hal tersebut merupakan dampak dari perubahan tutupan hutan. “Petani kopi belum siap menghadapi perubahan iklim. Walaupun mereka tahu persis bahwa tanaman kopi membutuhkan iklim tertentu agar bisa berproduksi dengan baik. Karena itu kemudian mereka berpindah ke daerah lebih tinggi untuk mencari iklim yang cocok untuk kopi.”

BMKG Berencana Buat Sekolah Lapang Iklim Kopi

Kepala BMKG Pulau Baai Kukuh Rubidiyanto mengungkapkan, minat masyarakat di Provinsi Bengkulu terhadap informasi tentang iklim masih rendah khususnya terkait produktivitas kopi. Untuk menumbuhkan minat masyarakat, BMKG berencana membuat kajian mengenai hubungan iklim dan produktivitas kopi. “Mudah-mudahan bisa kita jadikan suatu kegiatan, sekolah lapang iklim,” kata Kukuh dalam diskusi “Kopi, Hutan dan Perubahan Iklim”. (**)